Kamis, 02 Mei 2013

Makalah Pre-Eklamsia

Defenisi
Pre eklamsi merupakan suatu kondisi yang spesifik pada kehamilan, terjadi setelah minggu ke- 20 gestasi, ditandai dengan hipertensi dan proteinuria, edema juga dapat terjadi (Wijayarini, Maria:2001)
Pre eklamsi di sebut juga hipertensi pada kehamilan, merupakan kelainan yang tidak di ketahui etiologinya yang terjadi dalam kehamilan, di manifestasikan dengan hipertensi ( tekanan sistolik 30 mmHg atau tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai dasar). Edema, proteinusia ( pre eklamsia) yang dapat berlanjut pada kejang atau koma(eklamsia) (Marilyn E. Doengus: 2001: 178)
Pre eklamsi ialah penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan, umumnya terjadi dalam triwulan ke- 3 kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya ( Sarwono Prawihardjo, 1999: 282)
Preeklamsi merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal (Bobak, 2005:62).

          Dapat disimpulkan Wanita Hamil Deangan Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil atau pada wanita hamil, yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, dan edema. Dimana tekanan darah meningkat selama masa kehamilan. Bila tekanan darah meningkat, tubuh menahan air, dan protein bisa ditemukan dalam urin. Hal seperti ini juga disebut sebagai toxemia atau pregnancy induced hypertension (PIH).
          Preeklampsia cenderung terjadi pada trimester ketiga kehamilan atau bisa juga muncul pada trimester kedua (di atas 20 minggu). Setiap ibu hamil memiliki kemungkinan untuk mengalami preeklampsia.
Klasifikasi Pre Eklamsia
1. Pre eklamsia Ringan
Adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme pembuluh darah dan aktivasi endotel.
Diagnosis :
Diagnosis pre eklamsi ringan di tegakkan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah kehamilan 20 minggu.
• Hipertensi : sistolik / diastolic ≥ 140/90 mmHg.
• Proteinuria : ≥ 300 mg / 24 jam
• Edema : edema local tidak dimasukan dalam criteria pre eklamsi, kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema generalisata.

2. Pre Eklamsia Berat
Adalah pre eklamsia dengan tekanan darah sistolik lebih dari ≥ 160 mmHg dan tekanan darah diastolic ≥ 110 mmHg disertai proteinuria lebih 5 gr / 24 jam.
Diagnosis :
Diagnosis ditegakkan berdasar criteria pre eklamsia berat sebagaimana tercantum di bawah ini :
• Sistolik ≥ 160 mmHg dan diastolic ≥ 110 mmHg
• Proteinuria lebih 5 gr / 24 jam
• Oliguria
• Kenaikan kadar kreatinin plasma
• Gangguan fisus dan serebral
• Nyeri epigastrium
• Edema paru-paru dan sianosis
• Hemolisis mikroangiopatik
• Trombositopenia berat
• Gangguan fungsi hepar
• Pertumbuhan janin intra uterin yang terhambat
• Sindrom HELLP
B. Etiologi
Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. penyebab pre-eklamsia hingga kini belum diketahui.
Penyebab lain yang diperkirakan terjadi, adalah :
- Kelainan aliran darah menuju rahim.
- Kerusakan pembuluh darah.
- Masalah dengan sistim ketahanan tubuh.
- Diet atau konsumsi makanan yang salah.
Namun jika tidak ditangani secara tepat dan cepat, preeklamsia akan segera berubah menjadi eklamsia yang berakibat fatal pada bayi dan ibu, yaitu infeksi dan perdarahan yang menyebabkan kematian. Maka pencegahan yang bisa dilakukan adalah memastikan pemeriksaan rutin setiap bulan agar perkembangan berat badan serta tekanan darah ibu dapat terpantau secara baik.


Diagnosa
Diagnosis pre-eklampsia ditegakkan berdasarkan :
1. peningkatan tekanan darah yang lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg
2. atau peningkatan tekanan sistolik > 30 mmHg atau diastolik > 15 mmHg
3. atau peningkatan mean arterial pressure >20 mmHg, atau MAP > 105 mmHg
4. proteinuria signifikan, 300 mg/24 jam atau > 1 g/ml
5. diukur pada dua kali pemeriksaan dengan jarak waktu 6 jam
6. edema umum atau peningkatan berat badan berlebihan
Tekanan darah diukur setelah pasien istirahat 30 menit (ideal). Tekanan darah sistolik adalah saat terdengar bunyi Korotkoff I, tekanan darah diastolik pada Korotkoff IV.
Bila tekanan darah mencapai atau lebih dari 160/110 mmHg, maka pre-eklampsia disebut berat. Meskipun tekanan darah belum mencapai 160/110 mmHg, pre-eklampsia termasuk kriteria berat jika terdapat gejala lain seperti disebutkan dalam tabel.

Penyebab
Pre eklamsi sering terjadi pada kehamilan pertama dan pada wanita yang memiliki sejarah pre eklamsi di keluarganya. Resiko lebih tinggi terjadi pada wanita yang memiliki banyak anak, ibu hamil, usia remaja, dan wanita hamil di atas usia 40 tahun. Selain itu, wanita dengan tekanan darah tinggi atau memiliki gangguan ginjal sebelum hamil juga beresiko tinggi mengalami pre eklamsi. Penyebab sesungguhnya masih belum di ketahui (www.kalbe.co.id, diaskes 21 april 2008)
Ada beberapa teori menjelaskan perkiraan etiologi dari kelainan tersebut di atas, sehingga kelaianan ini sering di kenal sebagai the disease of theory (Zweifel, 1916). Adapun teori – teori tersebut antara lain:
Faktor predisposisi:
1)      Primigravida atau multipara, terutama pada umur reproduksi eksterm, yaitu remaja dan umur 35 tahun ke atas.
2)      Multigravida dengan kondisi klinis:
a)          Kehamilan ganda dan hidrops fetalis
b)        Penyakit vaskuler termasuk hipertensi esensial kronik dan diabetes melitus
c)         Penyakit ginjal
3)      Hiperplasentosis
4)      Riwayat keluarga pernah Pre eklamsi dan eklamsi
5)      Obesitas dan hidramion
6)      Gizi yan kurang dan anemi
7)      Kasus – kasus dengan asam urat yang tinggi, defisiensi kalsium, defisiensi asam lemak tidak jenuh kurang anti oksidan.
Penyebab lain yang diperkirakan dapat menyebabkan  Pre Eklamsia adalah :
- Kelainan aliran darah menuju rahim.
- Kerusakan pembuluh darah.
- Masalah dengan sistim ketahanan tubuh.
- Diet atau konsumsi makanan yang salah.
            Namun jika tidak ditangani secara tepat dan cepat, preeklamsia akan segera berubah menjadi eklamsia yang berakibat fatal pada bayi dan ibu, yaitu infeksi dan perdarahan yang menyebabkan kematian.












Tanda dan Gejala Pre Eklamsia
Menurut Williams, 2002 : 399, diagnosis preeklamsi ditegakan berdasarkan adanya dua dari empat gejala, yaitu:
1)      Penambahan berat badan yang berlebihan bila terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali.
2)      Edema, terlihat sebagai peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.
3)      Hipertensi, tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau tekanan sistolik meningkat >30 mmHg atau tekanan diastolic >15 mmHg yang diukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit.
4)    Proteiunuria bila terdapat protein sebanyak 0,3 g/l dalam air kencing 24 jam atau pemeriksaan menunjukan+1 atau 2; atau kadar protein ≥1g/l dalam urin yang dikeluarkan dengan kateter, diambil minimal dua kali dengan jarak waktu 6 jam.
Disebut preeklamsi berat bila ditemukan gejala berikut:
a)        Tekanan darah sistolik ≥160 mmHg dan diastolic ≥110 mmHg.
b)        Proteinuria +≥5 gram/24 jam
c)        Sakit kepala hebat atau gangguan penglihatan.
d)       Nyeri epigastrium dan icterus.
e)        Edema paru atau sianosis.
f)         Trombositipenia.
g)        Pertumbuhan janin terlambat.



Pengobatan
Sebenarnya Ibu tidak perlu terlalu khawatir ketika terbukti terkena preeklamsia, karena penyakit ini bisa diatasi dengan dua pengobatan yang dilakukan, yakni secara medis konvensional dan secara holistik modern.
Medis konvensional merupakan pengobatan yang dilakukan tergantung pada seberapa dekat tanggal perkiraan kelahiran Ibu. Bila kelahiran sudah dekat dengan tanggal kelahiran dan bayi sudah cukup berkembang, maka dokter mungkin akan menyarankan untuk mengeluarkan bayi dengan segera.
Namun apabila Ibu mengalami preeklamsia sedang, sementara bayi belum berkembang secara penuh maka dokter akan menyarankan Ibu melakukan beberapa hal seperti:
• Istirahat, berbaring pada sisi kiri tubuh agar janin tidak menindih urat darah
• Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran
• Mengurangi makan garam
• Minum 8 gelas air putih per hari
Dokter pun mungkin akan menyarankan Ibu untuk mengkonsumsi beberapa jenis obat tertentu dan/atau melakukan terapi tertentu.
Tetapi apabila Ibu mengalami preeklamsia berat, maka biasanya dokter akan mengobatinya dengan memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah sampai perkembangan bayi cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat. Selain itu, dapat disertai dengan pengobatan dan/atau terapi lain yang diperlukan untuk menjaga kondisi Ibu dan janin.
Sementara itu penanganan preeklamsia secara holistik modern biasanya dilakukan oleh dokter dengan menyarankan Ibu mengambil tindakan preventif dan perawatan seperti berikut:
• Hindari stres, karena stres dapat mengacaukan metabolisme tubuh, menurunkan sistem imun dan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi.
• Perbanyak mengkonsumsi sayuran berdaun hijau, brokoli, wortel, kacang-kacangan dan juga buah-buahan.
• Minum air putih sebanyak delapan gelas perhari
• Hindari minum susu, kafein, soft drink dan junk food
• Ganti garam meja dengan garam laut
• Mengkonsumsi supleman dan vitamin
Pengobatan pre-eklampsia ringanv
1. dapat dikatakan tidak mempunyai risiko bagi ibu maupun janin
2. tidak perlu segera diberikan obat antihipertensi atau obat lainnya, tidak perlu dirawat kecuali tekanan darah meningkat terus (batas aman 140-150/90-100 mmHg).
3. istirahat yang cukup (berbaring / tiduran minimal 4 jam pada siang hari dan minimal 8 jam pada malam hari)
4. pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur
5. pemberian asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg/hari.
6. bila tekanan darah tidak turun, dianjurkan dirawat dan diberi obat antihipertensi : metildopa 3x 125 mg/hari (max.1500 mg/hari), atau nifedipin 3-8 x 5-10 mg/hari, atau nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari, atau pindolol 1-3 x 5 mg/hari (max.30 mg/hari).
7. diet rendah garam dan diuretik TIDAK PERLU
8. jika maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa tiap 1 minggu
9. indikasi rawat : jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun setelah 2 minggu rawat jalan, peningkatan berat badan melebihi 1 kg/minggu 2 kali berturut-turut, atau pasien menunjukkan tanda-tanda pre-eklampsia berat. Berikan juga obat antihipertensi.
10. jika dalam perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai pre-eklampsia berat. Jika perbaikan, lanjutkan rawat jalan
11. pengakhiran kehamilan : ditunggu sampai usia 40 minggu, kecuali ditemukan pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, solusio plasenta, eklampsia, atau indikasi terminasi lainnya. Minimal usia 38 minggu, janin sudah dinyatakan matur.
12. persalinan pada pre-eklampsia ringan dapat dilakukan spontan, atau dengan bantuan ekstraksi untuk mempercepat kala II.
Pengobatan  pre-eklampsia beratv
Dapat ditangani secara aktif atau konservatif.
Aktif berarti : kehamilan diakhiri / diterminasi bersama dengan pengobatan medisinal.
Konservatif berarti : kehamilan dipertahankan bersama dengan pengobatan medisinal.
Prinsip : Tetap PEMANTAUAN JANIN dengan klinis, USG, kardiotokografi.
1. Penanganan aktif.
Penderita harus segera dirawat, sebaiknya dirawat di ruang khusus di daerah kamar bersalin. Tidak harus ruangan gelap.
Penderita ditangani aktif bila ada satu atau lebih kriteria ini :


- ada tanda-tanda impending eklampsia
- ada HELLP syndrome
- ada kegagalan penanganan konservatif
- ada tanda-tanda gawat janin atau IUGR
- usia kehamilan 35 minggu atau lebih



(Prof.Gul : 34 minggu berani terminasi. Pernah ada kasus 31 minggu, berhasil, kerjasama dengan perinatologi, bayi masuk inkubator dan NICU)
Pengobatan medisinal : diberikan obat anti kejang MgSO4 dalam infus dextrose 5% sebanyak 500 cc tiap 6 jam. Cara pemberian MgSO4 : dosis awal 2 gram intravena diberikan dalam 10 menit, dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan sebanyak 2 gram per jam drip infus (80 ml/jam atau 15-20 tetes/menit).
Syarat pemberian MgSO4 : - frekuensi napas lebih dari 16 kali permenit - tidak ada tanda-tanda gawat napas - diuresis lebih dari 100 ml dalam 4 jam sebelumnya - refleks patella positif.
MgSO4 dihentikan bila : - ada tanda-tanda intoksikasi - atau setelah 24 jam pasca persalinan - atau bila baru 6 jam pasca persalinan sudah terdapat perbaikan yang nyata.
Siapkan antidotum MgSO4 yaitu Ca-glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc NaCl 0.9%, diberikan intravena dalam 3 menit).
Obat anti hipertensi diberikan bila tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg atau tekanan darah diastolik lebih dari 110 mmHg. Obat yang dipakai umumnya nifedipin dengan dosis 3-4 kali 10 mg oral. Bila dalam 2 jam belum turun dapat diberi tambahan 10 mg lagi.
Terminasi kehamilan : bila penderita belum in partu, dilakukan induksi persalinan dengan amniotomi, oksitosin drip, kateter Folley, atau prostaglandin E2. Sectio cesarea dilakukan bila syarat induksi tidak terpenuhi atau ada kontraindikasi partus pervaginam. Pada persalinan pervaginam kala 2, bila perlu dibantu ekstraksi vakum atau cunam.
2. Penanganan konservatif
Pada kehamilan kurang dari 35 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eclampsia dengan keadaan janin baik, dilakukan penanganan konservatif.
Medisinal : sama dengan pada penanganan aktif. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda pre-eklampsia ringan, selambatnya dalam waktu 24 jam. Bila sesudah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan dan harus segera dilakukan terminasi.

Referensi
1.      Depkes, RI, Perawatan Kebidanan Yang Berorientasi Pada Keluarga, (Perawatan III), Jilid 1, Edisi 3, Jakarta, 1990
2.      .2.Doenges, ME dan Moorhouse, MF, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Edisi 2, Jakarta, EGC, 2001.
3.      Hamilton, MP, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, Jakarta, EGC, 1995.
4.      Mansjor A, dkk, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, Media Aeusculapius, 1999.
5.      Mochtar Rusta, Sinopsis Obstetri, Jilid 1 dan Jilid 2, Jakarta, EGC, 1998.
6.      Prawirohardjo S, Ilmu Kebidanan dan Ilmu Bedah Kebidanan, Edisi 3, Yayasan Bina Pustaka, 1999.
7.      Prawirohardjo S, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
8.      Reeder, Mastroianni, Martin, Fitzpatrik. Maternity Nursing. 13rd edition. Philadelpia : J.B. Lippincott Company, 1976; 23:463-472.
  1. Pritchard JA.MD, MacDonald PC.MD, Gant NF MD. William Obstetrics. Penerjemah: Hariadi R. Prof. Dr, dkk. Surabaya: Airlangga University Press, 1997 ; 27 : 609-646.
10.  Wiknjosastro Hanifa, DSOG., Prof. dr., dkk. Ilmu Kebidanan. Ed. Ketiga. Cetakan Keempat. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohaijo, 1997; 24 : 281-301.
11.  Dikman. “Hipertensi dalam kehamilan” Simposium “ Era baru pengobatan gagal jantung dan hipertensi”. Surabaya, 4 Agustus 1984.
12.   Angsar M. Dikman. “Panduan Pengelolaan Hipertensi dalam kehamilan di Indonesia”. Sat Gas Gestosis POGI Edisi I, 1985.
13.   Ferri T.F. “Toxemia and Hypertension” Medical Complication during pregnancy. WB Saunders & Co Philadelphia 1982.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar